Mengelola Emosi Perempuan: Antara Fitrah Biologis, Psikologi, Dan Bimbingan Nabawi
Penulis: Nyai Dr. Hj. Umnia Labibah, S.Th.I., M.Si.
Pengurus Pusat Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh, Bidang Keagamaan
1. FITRAH EMOSIONAL PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF BIOLOGIS DAN PSIKOLOGI
Secara ilmiah, perbedaan cara perempuan dan laki-laki merespons emosi memang ada dasarnya.
a. Faktor Hormon
Hormon estrogen pada perempuan berperan besar dalam mengatur suasana hati dan empati. Estrogen membuat area otak yang terkait emosi seperti amygdala dan hippocampus lebih aktif. Ini sebabnya perempuan secara alami lebih peka terhadap ekspresi wajah, nada suara, dan suasana hati orang lain.
Kapasitas empati yang tinggi ini adalah anugerah. Dengan empati, perempuan lebih mudah menjadi pendengar, pengasuh, dan penengah dalam keluarga serta masyarakat.
b. Faktor Otak dan Psikologi
Penelitian psikologi menunjukkan perempuan cenderung menggunakan kedua belah otak secara bersamaan saat memproses emosi. Sehingga respons emosionalnya lebih cepat dan lebih kaya. Sementara laki-laki cenderung lebih analitis dan memisahkan emosi dari logika saat mengambil keputusan.
Karena dominannya unsur emosi ini, maka Islam dan ilmu psikologi sama-sama menekankan pentingnya “manajemen emosi” bagi perempuan.
2. CARA SEHAT MELAMPIASKAN DAN MEREDAM EMOSI
Emosi itu tenaga. Kalau disalurkan dengan benar jadi produktif, kalau ditahan atau dilampiaskan salah jadi destruktif.
Cara melampiaskan emosi secara positif:
1. Salurkan ke kegiatan produktif: Berolahraga seperti bersepeda, lari, yoga. Olahraga melepaskan hormon endorfin yang menenangkan.
2. Hobi yang disukai: Memasak, berkebun, menulis, merajut. Ini jadi katarsis untuk mengeluarkan energi emosi.
3. Bercerita ke tempat yang tepat: Curhat kepada teman, suami, atau mentor yang bisa menenangkan, bukan memprovokasi.
Cara meredam emosi menurut ajaran Rasulullah SAW:
Rasulullah mengajarkan adab ketika marah agar tidak dikuasai setan. Untuk perempuan dan laki-laki berlaku sama:
1. Berwudhu dengan air: Air bersifat mendinginkan. “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api itu dipadamkan dengan air.” HR. Abu Dawud
2. Mengubah posisi: Jika berdiri maka duduk, jika duduk maka berbaring.
3. Berdzikir dan bershalawat: Mengingat Allah akan menenangkan hati. _“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”_ QS. Ar-Ra’d: 28
4. Diam: “Jika salah seorang di antara kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum hilang, maka hendaklah ia berbaring.” HR. Abu Dawud
3. PERBEDAAN EMOSIONAL LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN
Islam mengakui perbedaan penciptaan laki-laki dan perempuan sebagai rahmat agar saling melengkapi.
a. Surah An-Najm ayat 45
“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan”
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan biologis, psikis, dan peran adalah kehendak Allah agar terjadi _takamul_ – saling menyempurnakan. Perempuan dengan kepekaan emosinya, laki-laki dengan kekuatannya.
b. Surah Az-Zukhruf ayat 18
“Dan apakah patut dijadikan anak Allah orang yang dipelihara dalam perhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran?”
اَوَمَنْ يُّنَشَّؤُا فِى الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِى الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِيْنٍ
Para mufasir menjelaskan ayat ini adalah sindiran kepada orang musyrik yang menganggap malaikat adalah anak perempuan Allah. Ciri perempuan dalam budaya Arab saat itu memang identik dengan berhias dan secara umum kurang terlatih dalam debat publik yang keras di majelis. Ayat ini bukan vonis bahwa semua perempuan tidak bisa logis, tapi menggambarkan _ghalib_/umumnya watak.
Karena itu Islam memberi ruang pendidikan. Banyak sahabiyat yang cerdas, hafal Al-Qur’an, ahli fiqih, dan hebat berdiplomasi seperti Aisyah RA, Ummu Salamah RA.
4. HADITS TENTANG “KURANG AKAL DAN AGAMA”
Dalam HR. Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda: _“Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih bisa meluluhkan hati laki-laki yang teguh selain kalian wahai para wanita.”_
Para ulama menjelaskan:
“Kurang akal” = karena adanya masa haid dan nifas yang menyebabkan perempuan tidak shalat dan tidak puasa. Dan dalam persaksian, Islam mensyaratkan 2 perempuan = 1 laki-laki karena faktor kealpaan. Ini bentuk kasih sayang agar tidak memberatkan.
“Kurang agama“= karena haid dan nifas juga.
Ini bukan penghinaan, tapi penjelasan hukum. Justru karena memahami fitrah ini, Islam memuliakan perempuan dengan tidak membebani pada masa-masa tertentu dan menempatkan surga di bawah telapak kaki ibu.
5. KESIMPULAN: MENGELOLA BUKAN MENAHAN
Emosi yang dominan bukanlah kelemahan. Itu adalah kekuatan jika dikelola.
Perempuan diciptakan dengan hormon estrogen, empati tinggi, dan kepekaan rasa agar bisa menjadi madrasah pertama, penyejuk rumah, dan perekat umat.
Tugas kita adalah:
1. Mengenali diri: Saya sedang emosi karena apa? Lapar, lelah, atau hormon?
2. Menyediakan jalan keluar halal: Olahraga, masak, dzikir, wudhu, shalawat.
3. Belajar ilmu: Agar saat berdebat bisa mubin – jelas argumentasinya. Islam memerintahkan kita menuntut ilmu.
Sebagaimana kata Imam Al-Ghazali: “Akal adalah raja, nafsu adalah menteri, dan emosi adalah prajurit. Jika rajanya kuat, maka negara akan aman.”
Mari kita didik emosi kita, agar menjadi perempuan yang kuat secara iman, cerdas secara akal, dan lembut secara rasa.
Wallahu a’lam bish-shawab





































