PMI Kota Bandung Luncurkan KESWANDU, Perkuat Pasokan Darah Mulai dari Tingkat RW
BANDUNG, -Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung resmi meluncurkan *KESWANDU (Kesatuan Relawan Pos Yandu)* sebagai kolaborasi dengan Tim Pembina Pos Yandu Kota Bandung. Peluncuran berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Rabu (17/9/2026).

Program ini menjadi akselerasi pelayanan kesehatan dan kemanusiaan, khususnya untuk mengoptimalkan kebutuhan darah bagi masyarakat yang selama ini kerap dianggap sepele namun menjadi panik saat dibutuhkan.
Ketua PMI Kota Bandung, Ade Koesjanto, menjelaskan bahwa kerja sama ini lahir dari fakta di lapangan terkait ibu hamil berisiko yang membutuhkan transfusi darah.
“Jadi gini, ini kan kerja sama PMI Kota Bandung dengan tim Pembina Posyandu. Karena di Posyandu itu ada program ibu yang berisiko melahirkan membutuhkan darah. PMI dengan kerja sama Posyandu itu mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat tentang kebutuhan darah. Karena biasanya kebutuhan darah suka dianggap enteng, tapi pada saat membutuhkan kadang-kadang panik,” ujar Ade Koesjanto di Pendopo, Rabu (17/9).
Melalui KESWANDU, nantinya akan dibentuk *Satuan Kerja KDD (Korps Donor Darah)* di setiap RW. Satu satker terdiri dari 10 orang, yakni 1 koordinator dan 9 anggota. Satker ini tidak hanya satu per RW, tapi bisa beberapa, agar jangkauan pelayanannya tidak terlalu jauh.
Salah satu tugas utamanya adalah mendampingi ibu hamil.
“Bagi ibu yang hamil itu wajib untuk merekrut calon pendonor 4 orang. Maksudnya untuk digunakan pada saat nanti berisiko, dan syukur-syukur tidak berisiko. Jadi sudah merekrut calon pendonor, itu bisa dari suami atau siapa saja,” jelasnya.
Dengan adanya satker di tingkat RW, masyarakat yang membutuhkan darah tidak perlu lagi kebingungan hingga harus mengumumkan di masjid untuk mencari pendonor.
“Pada kenyataannya suka bingung, saya suka dengar fakta dari lapangan kadang-kadang di masjid diumumkan siapa yang mau donor. Kalau nanti satker sudah ada di RW dan dia informasikan di Posyandu, dan Posyandu sharing tiap pelaksanaan Posyandu menyampaikan informasi tentang kepalangmerahan dan jadwal donor, kebutuhan darah akan lebih optimal dilayani,” kata Ade.
Ke depan, setiap satker KDD juga akan mendapatkan pelatihan kepalangmerahan dari PMI. Selain urusan donor darah, mereka juga akan menjadi jembatan informasi dari Posyandu maupun program Pemerintah Kota Bandung hingga ke tingkat RT/RW.
“Nanti kalau sudah launching, akan ada pelatihan tentang kepalangmerahan. Jadi cakupan masyarakat ke depan di lingkungan RW ini akan lebih baik. Sekarang kan serba online, jadi kita jemput bola kepada masyarakat. Tidak hanya informasi mengenai golongan darah, tapi informasi dari Posyandu atau dari Pemkot bisa tersampaikan dengan baik,” pungkasnya.
Ade menambahkan, saat ini minat donor darah di Kota Bandung terus meningkat, terutama dari kalangan usia 17 tahun ke atas yang sadar donor tidak hanya untuk menolong orang lain, tetapi juga baik untuk kesehatan dan sirkulasi darah.
Program ini juga sejalan dengan himbauan Wali Kota Bandung yang meminta para Camat untuk wajib menjadi pendonor dan mengajak warganya.
(Red)





































