Sampah Jadi Berkah, Great Bandung Dorong Warga Rajin Pilah dari Rumah
Bandung (kota) //Sampah tak lagi sekadar barang buangan. Di Great Bandung, sampah dipilah dan ditukar menjadi sesuatu yang bernilai mulai dari voucher belanja hingga layanan pemeriksaan kesehatan.
Program tersebut kembali digelar melalui kegiatan rutin belanja bazar pakai sampah dalam rangkaian Hari Jadi ke-216 Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi masyarakat dan pemerintah dalam mendorong pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan turut memberikan contoh langsung dengan menukarkan sampah yang telah dipilah. Sebanyak 8 kilogram sampah kertas dan 0,5 kilogram sampah plastik bersih yang ditimbang menghasilkan nilai Rp22.000.
Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi sejumlah voucher senilai Rp5.000, ditambah bonus berupa layanan pemeriksaan kesehatan.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan inisiatif dari warga ini bisa memberikan nilai tambah tersendiri kepada upaya kita untuk memastikan bahwa penanganan sampah adalah penanganan bersama, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja,” kata Farhan saat meninjau Great Bandung yang digelar di Balai Kota Bandung, Sabtu 12 September 2026.
Menurutnya, keberadaan Great Bandung menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjadi motor penggerak dalam menyelesaikan persoalan sampah. Pemerintah memiliki peran untuk memberikan stimulasi sekaligus ruang bagi komunitas agar terus berkreasi.
Farhan berharap gerakan Great Bandung yang selama ini telah berjalan konsisten dapat berkembang hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Saya sangat berharap bahwa komunitas Great Bandung yang pencapaiannya sudah luar biasa ini bisa berkembang sampai wilayah kecamatan dan kelurahan. Itu sangat tergantung kepada teman-teman dari Great Bandung,” ujarnya.
Farhan mengatakan, Pemkot Bandung, siap memberikan dukungan dan menyediakan ruang agar kolaborasi antara komunitas, masyarakat dan pemerintah dapat terus berjalan.
“Kalau pemerintah pokoknya akan menyediakan tempat dan memberikan dukungan sebisa mungkin agar kolaborasi antara komunitas dan masyarakat dengan program pemerintah berjalan,” ucapnya.
Farhan menilai model pengelolaan sampah yang dilakukan Great Bandung juga berpotensi direplikasi di daerah lain di Jawa Barat.
Ia menyebut, bukan tidak mungkin muncul komunitas serupa di berbagai daerah, seperti Great Bogor atau Great Sukabumi.
“Kalau untuk Kota Bandung, yang pasti ini salah satu contoh bagaimana inisiatif masyarakat ini menjadi motor penggerak utama untuk penanganan sampah dari hulu,” ujarnya.
Farhan mengaku masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung. Persoalan tersebut menurutnya terbagi menjadi aspek teknis dan nonteknis.
Dari sisi teknis, Pemkot Bandung masih melakukan pembenahan manajemen serta teknologi pengangkutan sampah.
“Setelah kami melakukan evaluasi bersama Bappenas, pihak pekerjaan umum serta Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk melakukan manajemen pengangkutan sampah yang baik itu juga masih jauh tertinggal. Jadi, kita sedang akan memperbaiki salah satunya,” katanya.
Sedangkan dari sisi nonteknis, tantangan terbesar adalah membangun kesadaran masyarakat untuk memilah sampah.
Menurut Farhan, pemilahan tidak bisa hanya mengandalkan imbauan. Masyarakat membutuhkan pengetahuan dan edukasi agar memahami jenis serta nilai dari sampah yang mereka hasilkan.
“Memilah itu harus ada pengetahuan dan edukasinya. Maka, kita mulai masuk lewat edukasi dan sosialisasi. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menggunakan Gaslah. Itu yang resmi. Yang inisiatif komunitas seperti Great Bandung ini kan memaksa orang untuk mengetahui apa dan bagaimana cara memilah,” jelasnya.
Farhan mengatakan, secanggih apa pun teknologi pengolahan sampah yang digunakan, proses pemilahan tetap menjadi fondasi utama.
“Karena dari awal yang paling penting kita semua menyadari, mau teknologinya canggih apa pun yang digunakan untuk pengelolaan sampah harus ada pemilahan. Titik,” tuturnya. (kyy)**
(Red/HMS)





































