KDM Bikin Bandung Mirip Bali. Sayang, Nasib PKL Mirip Pengungsi
Oleh: Tim Redaksi DEWICYBER.NET
Ada kabar gembira dari Jalan Rajiman.
Sekarang kalau kamu foto di sana, background-nya bukan lagi gerobak dan panci. Tapi pohon Tanjung bersarung kain catur, umbul-umbul, dan trotoar sebersih lantai hotel.
Dilansir dari TINGKAP.CO, ini semua “buah” dari konsep penertiban Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. PKL disikat. Jalan didandani. Voila! Lahirlah “Pulau Dewata” versi Disdik Jabar.
Tepuk tangan dulu buat estetikanya. 👏
Tapi…
Masalahnya, di balik umbul-umbul yang berkibar itu, ada Mas Yanto yang lagi mikir: “Bulan ini cicilan BRI dari mana?”
Dulu sehari dia habis 10kg ayam. Sekarang seminggu 10kg gak habis.
Dulu 10kg beras sehari. Sekarang 2kg juga mampet.
Janji “nanti dipindah ke kantin Disdik”? Sampai sekarang yang pindah cuma status WA-nya doang.
Ada juga Iyan dari Tasik. Gerobak rapi hasil sponsor, raib. Sekarang dagang kopi pake motor. Jawabannya pas ditanya: “Pasrah pak…”
Dua kata yang paling menyakitkan dari rakyat kecil.
Logika “Rapi” vs Logika “Perut”
Kami paham Kang KDM. Bandung harus tertib. Bandung harus punya wajah. Konten harus jalan.
Tapi Kang, UMKM Jabar itu 6,5 juta. Kontribusinya 57% ke PDRB. Ini bukan “sampah kota” yang tinggal sapu. Ini tulang punggung ekonomi.
Seperti kata aktivis Fidelis Dapati Giawa ke TINGKAP.CO: “Ini bukan penertiban. Ini pemberangusan. Melahirkan kaum miskin baru.”
Nah loh. Nampol kan?
Yang Bikin Geleng-geleng
Yang paling absurd: Jalan Rajiman disulap mirip Bali. Ornamen, kain kotak-kotak, nuansa “Dewata”.
Kang… kami orang Sunda. Kami bangga sama budaya kami sendiri.
Mau secantik apapun “make up”-nya, kalau isinya rakyat menjerit, itu namanya bukan pembangunan. Itu namanya pemindahan masalah + pemindahan alam.
APBD defisit Rp 5,7 Triliun buat dongkrak popularitas boleh. Tapi jangan lupa, ada rakyat yang defisit beras di dapurnya.
Pesan Terakhir
Kang Dedi, kami cinta Bandung yang rapi. Kami cinta gubernur yang berani.
Tapi tolong… sebelum cat tembok dikeringkan, pastikan dulu perut rakyat sudah kenyang.
Sebelum umbul-umbul dipasang, pastikan dulu lapak pengganti sudah jadi.
Karena kota yang hebat itu bukan yang paling instagramable.
Tapi kota yang paling adil buat warganya.
Jangan sampai “Jabar Istimewa” hanya istimewa di video. Sementara di lapangan, rakyatnya biasa-biasa saja… menderitanya.
Opini ini diolah dari laporan lapangan http://TINGKAP.CO, 10 & 14 Agustus 2026





































