Ega Ayu Aryani, Anak Aman Yani, Ungkap Peran Ririn dalam Pengambilan Uang atas Perintah Ayahnya

REDAKSI JAWA BARAT

- Redaksi

Jumat, 22 Mei 2026 - 18:02 WIB

5075 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Indramayu, Dewicyber.net
Keluarga Aman Yani akhirnya kembali buka suara terkait berbagai peristiwa yang terjadi sejak hilangnya Aman Yani pada tahun 2016. Mereka mengaku selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan, kesedihan, hingga diteror para penagih utang yang terus berdatangan ke rumah.

“Sampai sekarang kami masih meyakini Papa masih ada. Rasanya sangat kontras, kami di sini hidup dalam kesedihan dan terus dikejar penagih utang, sementara di luar sana ada pihak yang terlihat bergembira,” ujar Ibu Samina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ega, anak Aman Yani, mengungkapkan bahwa hingga tahun 2026 masih banyak informasi dari warga yang mengaku pernah melihat sosok ayahnya datang secara diam-diam ke rumah orang tuanya di Bandung.

“Banyak tetangga yang laporan ke Mama. Katanya Papa datang memakai jaket, kacamata, masker, dan topi. Sangat tertutup. Kalau diminta jadi saksi mereka keberatan, tapi informasinya terus masuk,” tutur Ega.

Ketidakjelasan keberadaan Aman Yani disebut membuat keluarga menjadi sasaran para penagih utang. Bahkan, menurut Ega, pada bulan Ramadan 2026 lalu ada seorang perempuan yang datang mengaku sertifikat rumahnya digadaikan oleh Aman Yani.

“Saya bilang silakan cari Pak Aman sendiri, karena kami juga tidak tahu apa-apa,” katanya.

Ibu Samina menegaskan bahwa rumah yang ditempati keluarganya merupakan rumah pribadi, bukan kantor ataupun tempat aktivitas bisnis Aman Yani.
“Kami di sini hanya tinggal. Saya juga tidak bisa menanggapi semua persoalan itu,” ujarnya.

Keluarga juga mengungkap karakter Aman Yani yang dikenal tertutup dan sering berganti nomor telepon. Menurut Ibu Samina, hal itu sudah berlangsung sejak mereka tinggal di Bandung.
“Dia sering ganti nomor. Alasannya sinyal jelek atau supaya mudah isi pulsa. Hari ini pakai nomor ini, besok nomor lain lagi,” kenangnya.

Sorotan lain muncul terkait pencairan dana pesangon bernilai ratusan juta rupiah. Ibu Samina mengaku dirinya hanya diminta menandatangani dokumen tanpa mengetahui detail penggunaan uang tersebut.

“Saya cuma disuruh tanda tangan. Uangnya masuk ke rekening saya, tapi seminggu kemudian disuruh ambil lagi dan langsung dibawa ke Bandung karena katanya Papa mau berangkat ke luar kota,” jelasnya.

Dalam proses itu, nama Ririn disebut kerap menjadi perantara pengambilan maupun pengantaran uang atas perintah Aman Yani.

“Pola yang terjadi, Aman Yani menyuruh Ririn mengambil uang lalu membawanya ke Bandung,” ujar Toni RM.

Pernyataan itu dibenarkan Ibu Samina. Ia mengaku beberapa kali menerima telepon dari Aman Yani agar menyerahkan uang melalui Ririn.
“Saya ditelepon Aman Yani, disuruh Ririn yang datang mengambil uangnya, dibawa ke Bandung lalu diberikan ke Papa,” katanya.

Toni RM menambahkan, Ririn diduga sering diminta membantu karena berkaitan dengan pembayaran utang Aman Yani.

“Kalau bukan untuk bayar utang ke Ririn, ya uang itu diserahkan ke Aman Yani. Bahkan Ririn pernah mengeluh karena tidak diberi uang bensin setelah bolak-balik mengantar uang,” ungkap Toni.

Keluarga Aman Yani juga mengaku kecewa karena sering dituduh menikmati uang hasil dugaan korupsi, padahal mereka merasa menjadi korban dari tindakan Aman Yani sendiri.
“Kami hanya disuruh tanda tangan dan tidak tahu apa-apa. Saya dengar di media disebut korupsi Rp24 miliar, padahal aset pribadi juga dibawa semua. Di BPJS Ketenagakerjaan saja ada sekitar Rp31 miliar yang langsung masuk ke rekening dia,” ujar Ibu Samina.

Pengakuan keluarga ini menambah panjang rangkaian fakta dalam kasus yang terus menjadi perhatian publik. Mereka berharap seluruh persoalan dapat dibuka secara terang dan tuntas melalui proses hukum yang berjalan.

Berita Terkait

Tolic Masih Merasa “Dibayangi” Hodak
GEBYAR UTAMA 2026 Singgah di Antapani, Urus Pajak Hingga NIB Cukup Sehari
KDM: Mau Dapat Subsidi? Sekolah di Jabar Wajib Kelola Sampah
Pemkot Bandung Perkerat Patroli 24 Jam Dan Optimalkan Commabd Center Cegah Kriminalitas
HAN 2026 di Sentra Wyata Guna: 81 Anak Ikuti Khitanan Massal
Ir. Iswara Serap Aspirasi Warga di Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan TA 2026
Klinik Pembesar Penis Lombok H.Abdulazis Atasi Lemah Syahwat
Suasana Sakral Iringi Pengukuhan Hasmaldi sebagai Datuak Suku Malayu Rambai Manih

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 08:13 WIB

Tolic Masih Merasa “Dibayangi” Hodak

Minggu, 26 Juli 2026 - 06:59 WIB

GEBYAR UTAMA 2026 Singgah di Antapani, Urus Pajak Hingga NIB Cukup Sehari

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:19 WIB

KDM: Mau Dapat Subsidi? Sekolah di Jabar Wajib Kelola Sampah

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:04 WIB

Pemkot Bandung Perkerat Patroli 24 Jam Dan Optimalkan Commabd Center Cegah Kriminalitas

Senin, 20 Juli 2026 - 22:05 WIB

Ir. Iswara Serap Aspirasi Warga di Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan TA 2026

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:41 WIB

Hiling 1 Hari 1 Malam 4 Sekawan Sawah Kurung Jelajahi Rancabuaya – Santolo – Jayanti

Selasa, 14 Juli 2026 - 03:41 WIB

Hadiri Nobar Final Hydroplus U-18, Bupati Garut Dorong Kemajuan Sepak Bola Wanita

Selasa, 14 Juli 2026 - 03:13 WIB

Pembukaan MPLS, SMA Pasundan 1 Bandung Angkat Seni dan Budaya Sunda

Berita Terbaru

JAWA BARAT

Tolic Masih Merasa “Dibayangi” Hodak

Senin, 27 Jul 2026 - 08:13 WIB

JAWA BARAT

KDM: Mau Dapat Subsidi? Sekolah di Jabar Wajib Kelola Sampah

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:19 WIB